nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Ummu Kultsum binti Uqbah, Nekat Hijrah dari Makkah ke Madinah dengan Berjalan Kaki

Viola Triamanda, Jurnalis · Jum'at 15 November 2019 16:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 15 614 2130360 kisah-ummu-kultsum-binti-uqbah-nekat-hijrah-dari-makkah-ke-madinah-dengan-berjalan-kaki-05rhSOh8UB.jpg Ilustrasi hijrah (Foto: Pond5)

Ummu Kultsum binti Uqbah merupakan seorang perempuan yang kuat dan penuh iman. Ia beriman dan rela berhijrah dengan berjalan kaki dari Makkah ke Madinah demi menyatakan bai'at kepada Rasulullah untuk beriman Islam.

Nama lengkapnya adalah Ummu Kultsum binti Uqbah ibn Abu Mu'ith ibn Abi Amr ibn Umayyah ibn Abdi Syams al-Qurasyiyyah al-Amawiyyah. Ibunya bernama Urwa binti Kuraiz ibn Rabi'ah ibn Hubaib ibn Abdi Syams.

Ummu Kultsum merupakan saudara dari Utsman ibn Affan dari pihak ibu. Tidak ada seorang pun di kalangan perempuan Quraisy yang memiliki keberanian seperti Ummu Kultsum binti Uqbah.

la adalah seorang perempuan yang sangat pemberani, kuat, dan tegas. Perempuan yang sanggup menanggung halangan keluarga karena beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

 Kota Madinah

Sejatinya Ummu Kultsum memeluk Islam ketika masih berada di Makkah saat ia hidup dalam belenggu keluarga dan kerabatnya yang musyrik kaum Quraisy. Ia sudah masuk Islam sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah.

Ummu Kultsum telah menyatakan bai'at kepada Rasulullah untuk beriman dan menjalankan Islam dengan baik. Namun, ia merahasiakan keislaman itu hingga Rasulullah hijrah ke Madinah.

Sang sahabiyah yang agung, Ummu Kultsum, harus menentukan dan memilih antara tetap bersama keluarganya yang musyrik dan merahasiakan agamanya atau pergi dan lari dari keluarganya untuk hijrah menuju Madinah dan menyusul Rasulullah serta kaum mukminin lainnya.

Namun, cintanya yang luar biasa besar kepada Islam dan kepada Rasulullah mendorong Ummu Kultsum untuk memilih hijrah ke Madinah dan menyelamatkan agamanya.

Meski banyak mata mengawasi, meski banyak penjaga mengawasinya, serta banyak bahaya yang mengancam, tetapi Ummu Kultsum nekat pergi pada suatu malam.

Ummu Kultsum meninggalkan Kota Makkah, menyelinap menuju pegunungan, dan berjalan menuju Madinah. Ia pergi dengan berjalan kaki tanpa tunggangan apapun yang bisa membantunya untuk menanggung beratnya perjalanan. Ia kabur tanpa bekal maupun air yang bisa menjaganya dari ancaman kelaparan.

Namun berkat bantuan Allah SWT, Ummu Kultsum bertemu dengan seorang laki-laki dari Khuza'ah. Mereka saling berjanji sebagai saudara dan laki-laki itu pun rela menemaninya menuju Madinah.

Begitu tiba di Kota Madinah dan sampai di tempat yang aman, ia merasa sangat kelelahan, lalu ia segera tahu bahwa kedua saudaranya Al-Walid dan Imarah telah menyusulnya dari Makkah ke Madinah untuk membawanya kembali kepada keluarganya.

Kedua orang ini menemui Rasulullah dan meminta agar beliau mau memberikan Ummu Kultsum untuk dibawa pulang kembali kepada keluarganya di Makkah. Hal ini sejalan dengan perjanjian yang disepakati bersama dalam Perjanjian Hudaibiyah.

Al-Walid berkata kepada Rasulullah, "Wahai Muhammad, tepatilah perjanjian yang telah kita sepakati bersama!"

Dengan sangat berani dan penuh semangat, Ummu Kultsum bangkit dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku adalah seorang wanita. Engkau tahu bagaimana nasib orang-orang lemah sepertiku. Akankah engkau kembalikan aku kepada orang-orang kafir yang akan memfitnah agamaku hingga aku tidak mampu sabar?”

Allah SWT dan Rasul-Nya mendengar permohonan Ummu Kultsum. Berkaitan dengan dirinya dan para wanita yang sepertinya, Allah menurunkan ayat Alquran dalam Surah Al-Mumtahanah.

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ ۖ وَآتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۚ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ۚ ذَٰلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ ۖ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Quran Surat Al-Mumtahanah Ayat 10)

Akhirnya atas perintah Allah SWT, Rasulullah pun menguji Ummu Kultsum. Demikian pula beliau menguji para wanita yang hijrah sesudah Ummu Kultsum.

Rasulullah bersabda,

"Demi Allah, tidak ada yang mendorong kalian pergi selain cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta Islam. Kalian tidak pergi demi suami atau pun harta.”

Olehn karena itu, mereka tidak dikembalikan kepada keluarganya. Selanjutnya, Rasulullah berbicara kepada Al-Walid dan Imarah ibn Uqbah, "Allah telah membatalkan perjanjian itu untuk para wanita dengan alasan yang sudah kalian ketahui. Karena itu, pergilah kalian berdua!"

Akhirnya Ummu Kultsum tetap berada di Madinah di bawah perlindungan Islam dan menyerap ajaran-ajaran serta pancaran nubuwah yang mulia. Akhirnya, datanglah Zaid ibn Hâritsah ibn Syurahbil al-Kalbi untuk melamarnya kemudian mereka segera menikah.

Tidak lama setelah pernikahan itu, Zaid, sang suami, pergi dalam jihad fi sabilillah dalam Perang Mutah lalu gugur sebagai syuhada.

Setelah masa 'iddah-nya berakhir, datanglah Zubair ibn 'Awwam melamar Ummu Kultsum. Zubair menikahi Ummu Kultsum dan memiliki seorang anak bernama Zainab. Namun, Zubair adalah orang yang keras terhadap wanita hingga Ummu Kultsum tidak kuat dan tidak bisa menerima perlakuannya. la pun menuntut agar Zubair menceraikannya maka terjadilah perceraian.

Tidak lama kemudian, datanglah Abdurrahman ibn Auf yang melamar Ummu Kultsum. Abdurrahman menikah dengan Ummu Kultsum dan memiliki anak bernama Ibrahim dan Hamid. Namun, Ummu Kultsum kembali mesti ditinggal pergi oleh suaminya, Abdurrahman, untuk selamanya.

Setelah melewati masa iddah sesudah ditinggal pergi oleh Abdurrahman ibn Auf yang mengadap kehadirat Ilahi, Ummu Kultsum menikah dengan Amr ibn Ash. Satu bulan setelah menikah, Ummu Kultsum wafat dengan ridha dan diridhai.

Sang sahabat wanita yang beriman dan agung, Ummu Kultsum, telah berpulang ke sisi Tuhannya dengan ridha dan diridhai, beriman, saleh, dan taat.

Sungguh ia adalah wanita muslimah yang hijrah ke Madinah dengan berjalan kaki hingga Allah menurunkan ayat Alquran berkaitan dengan dirinya.

Ia meninggalkan dunia dengan aman dan damai serta ridha terhadap agama dan Nabinya. Semoga Allah meridhai dan menempatkannya dalam keluasan surga yang abadi. Demikian kisah ini dikutip dari Buku 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam.

  

Redaksi Okezone menerima foto atau tulisan pembaca berupa artikel tausyiah, kajian Islam, kisah Islam, cerita hijrah, kisah mualaf, event Islam, pengalaman pribadi seputar Islam, dan tema lain-lain yang berkaitan dengan Muslim. Tulisan dapat dikirim ke redaksi.okezone@mncgroup.com, cc okezone.lifestyle2017@gmail.com.

 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini