KH Ma'ruf Amin Menyayangkan Indonesia Masih Impor Produk Halal

Novie Fauziah, Jurnalis · Sabtu 07 Desember 2019 00:11 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 07 614 2139019 kh-ma-ruf-amin-menyayangkan-indonesia-masih-impor-produk-halal-isRLQg6cul.JPG KH Ma'ruf Amin Menyayangkan Indonesia Masih Impor Produk Halal

JAKARTA - Wakil Presiden RI (Wapres) KH Ma'ruf Amin menyayangkan Indonesia masih menjadi negara importir produk halal terbesar di dunia. Padahal, mayoritas penduduk Indonesia muslim dan memiliki sumberdaya alam melimpah, sehingga peluang menjadi eksportis sejatinya sangat terbuka.

Ironisnya lagi Indonesia malah mengimpor produk halal dari negara-negara dengan jumlah penduduk minoritas muslim. "Ternyata Indonesia paling besar konsumen (produk) halal. Tapi bukan jadi produsen halal. Paling besar Brazil, kedua Australia. Keduanya bukan negara dengan penduduk Islam terbesar," ujarnya saat mengisi sambutan acara Musyawarah Kerja Nasional Rabithah Alawiyah 2019 di Hotel Crowne, Jakarta Selatan, Jumat (6/12/2019).

KH Ma'ruf Amin mengatakan, seharusnya Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim jadi negara eksportir produk-produk halal. Peluang dan potensinya sangat besar, namun sayangnya hal ini belum dilakukan.

Masalah ini, kata KH Ma'ruf Amin, lantaran pengenalan produk halal oleh masyarakat hanya sebatas label (halal) saja. Sedangkan tentang pembuatannya masih kalah jauh dengan negara-negara di atas.

Saat menjadi keynote speaker dalam acara International Halal and Thayyib Conference 2019 di Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, Rabu 27 November 2019, KH Ma’ruf Amin menyebutkan, berdasarkan laporan Global Islamic Economic Report 2019, Brasil merupakan eksportir produk halal nomor satu di dunia, nilainya USD5,5 miliar dan Australia berada di peringkat dua dengan nilai USD2,4 miliar.

Sementara kondisi sebaliknya terjadi pada Indonesia, pada tahun 2018 Indonesia membelanjakan USD214 miliar untuk produk halal. Nilai ini mencapai 10% pangsa pasar produk halal dunia.

"Saya akan lebih gembira jika Indonesia mampu memproduksi sendiri produk halal tersebut, dan bahkan bisa mengeskpornya ke berbagai negara di dunia," tuturnya.

Potensi produk halal yang dimiliki Indonesia sangat besar, bukan hanya makanan dan minuman saja, tetapi juga wisata, fesyen, media, hiburan, kosmetik, hingga produk obat-obatan.

Menurut dia, visi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah menjadi pilihan rasional masyarakat. Demikian juga visi pengembangan produk halal, yang merupakan bagian pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, akan memberikan manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat.

Produk makanan dan minuman bersertifikat halal, menurut dia, harus menjadi pilihan bagi seluruh masyarakat. Hal ini diakuinya, bukan karena kehalalalnya saja, tetapi karena kualitasnya yang baik. Makanannya berkualitas baik, yakni enak, sehat, bergizi, dan thayyib

Dia mengatakan, barang dan jasa yang disediakan untuk masyarakat bisa bersertifikat halal, karena kualitas dan keunggulannya, bukan sekedar label halalnya saja yang dilekatkan di produk tersebut.

Pengembangan produk halal menurutnya harus bersifat universal. Dia mengharapkan produk halal bukan hanya untuk masyarakat muslim, tetapi jadi bagian itegral dari kehidupan masyarakat Indonesia, tanpa melihat perbedaan.

"Pengembangan produk halal sangat penting, karena kita tidak ingin menjadi konsumen halal. Bahkan, jangan sampai kita hanya menjadi tukang stempel halal, memberikan pengakuan terhadap produk halal dunia yang masuk ke Indonesia," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini