Keempat, menyembuhkan luka Khubaib bin Adi.
عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ: ضُرِبَ خُبَيْبٌ، يَعْنِي ابْنَ عَدِيٍّ، يَوْمَ بَدْرٍ، فَمَالَ شِقُّهُ، فَتَفَلَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَأَمَهُ وَرَدَّهُ فَانْطَبَقَ
Artinya: Ibnu Ishaq meriwayatkan, “Khubaib bin Abdurrahman bercerita kepadaku bahwa Khubaib bin Adi tertebas pedang pada saat perang Badar hingga tubuhnya miring sebelah. Namun kemudian Rasulullah meludahi lukanya, membungkus, dan mengembalikannya hingga serasi kembali.” Demikian sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Dalâ’il an-Nubuwwah.
Kelima, menyembuhkan mata Qatadah yang bergelantungan di pipinya sewaktu perang Badar.
عَنْ قَتَادَةَ بْنِ النُّعْمَانِ، أَنَّهُ أُصِيبَتْ عَيْنُهُ يَوْمَ بَدْرٍ فَسَالَتْ حَدَقَتُهُ عَلَى وَجْنَتِهِ، فَأَرَادُوا أَنْ يَقْطَعُوهَا، فَسَأَلُوا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «لَا» ، فَدَعَا بِهِ فَغَمَزَ حَدَقَتَهُ بِرَاحَتِهِ، فَكَانَ لَا يَدْرِي أَيَّ عَيْنَيْهِ أُصِيبَتْ
Artinya: Diriwayatkan bahwa Qatadah bin Nu’man matanya terkena senjata pada saat perang Badar hingga bola matanya bergelantungan di pipinya. Semula para sahabat hendak memotongnya. Untungnya, mereka menanyakannya lebih dahulu kepada Rasulullah. Dan beliau pun melarang, “Jangan dipotong.” Kemudian beliau memanggil Qatadah dan mengembalikan bola matanya dengan telapak tangan beliau. Sampai-sampai Qatadah pun tidak tahu mata mana yang sebelumnya terluka [karena sembuh total],” (HR. Baihaqi dalam Dalâ’il an-Nubuwwah).