Hukum Melunasi Utang Orangtua yang Sudah Meninggal

Hantoro, Jurnalis · Rabu 01 Juli 2020 09:29 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 07 01 614 2239272 hukum-melunasi-utang-orangtua-yang-sudah-meninggal-95leFht8dR.jpg Ilustrasi lunasi utang. (Foto: Dok Okezone/Dede Kurniawan)

UTANG adalah suatu hal yang wajib dilunasi. Sebab seseorang yang masih memiliki utang, ketika meninggal kelak, akan tertahan menuju surga hingga utangnya terlunasi.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلاً قُتِلَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِىَ ثُمَّ قُتِلَ مَرَّتَيْنِ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ

Artinya: "Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya seorang laki-laki terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, lalu dia terbunuh lagi dua kali, dan dia masih punya utang, maka dia tidak akan masuk surga sampai utangnya itu dilunasi." (HR Ahmad Nomor 22546, An Nasa'i Nomor 4684, Ath Thabarani dalam Kitab Al Kabir Nomor 556)

Kemudian ada riwayat dari Jabir Radhiallahu anhu, dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُصَلِّي عَلَى رَجُلٍ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَأُتِيَ بِمَيِّتٍ فَقَالَ أَعَلَيْهِ دَيْنٌ قَالُوا نَعَمْ دِينَارَانِ قَالَ صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ

Artinya: "Adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak mensholatkan laki-laki yang memiliki utang. Lalu didatangkan mayit ke hadapannya. Beliau bersabda: 'Apakah dia punya utang?' Mereka menjawab: 'Ya, 2 dinar.' Beliau bersabda, 'Sholatlah untuk sahabat kalian'." (HR Abu Daud Nomor 3343, disahihkan Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud Nomor 3343)

Baca juga: Sejarah Perjalanan Haji Indonesia dari Masa ke Masa 

Lalu bagaimana hukumnya seorang anak membayar utang untuk orangtuanya yang sudah meninggal?

Mengutip dari Muslim.or.id, Rabu (1/7/2020), anak tidak wajib menanggung utang orangtuanya yang sudah meninggal. Dijelaskan bahwa apabila uang peninggalan mayit sudah habis dan aset telah habis, maka tidak ada kewajiban bagi ahli waris untuk melunasi utang itu.

Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

فَإِنْ لَمْ يَخْلُفْ تَرِكَةً، لَمْ يُلْزَمْ الْوَارِثُ بِشَيْءٍ؛ لِأَنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ أَدَاءُ دَيْنِهِ إذَا كَانَ حَيًّا مُفْلِسًا، فَكَذَلِكَ إذَا كَانَ مَيِّتًا

Artinya: "Jika mayit tidak meninggalkan harta waris sedikit pun, maka ahli waris tidak memiliki kewajiban apa-apa. Karena mereka tidak wajib melunasi utang si mayit andai ia bangkrut ketika masih hidup, maka demikian juga mereka tidak wajib melunasinya ketika ia sudah meninggal." (Al Mughni, 5/155)

Ulama besar Arab Saudi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah, menjelaskan, "Andaikan mayit punya utang 1.000 dan warisannya 500, maka ahli waris tidak boleh dituntut untuk membayar lebih dari 500 itu. Karena tidak ada harta si mayit yang ada di tangan mereka kecuali sejumlah itu saja. Dan mereka tidak boleh diwajibkan untuk membayarkan utang orangtuanya. Maksudnya jika yang meninggal dalam keadaan punya utang adalah ayahnya dan utangnya lebih besar dari warisannya maka anak tidak wajibkan untuk membayar utang ayahnya." (Al Qawa’idul Ushul Al Jami’ah, 195)

Baca juga: Mampu Berkurban Malah Beli Sepeda Mahal, Bagaimana Hukumnya? 

Dianjurkan Melunasi Utang Orangtua

Meskipun tidak wajib, hukumnya mustahab atau dianjurkan bagi ahli waris, terutama anak-anak dari mayit, untuk membayarkan utang orangtuanya yang sudah meninggal.

Baca juga: Viral Risma Sujud: Tak Boleh Sujud kepada Siapa pun Selain kepada Allah 

Ilustrasi Muslimin. (Foto: Unsplash)

Al Bahuti menjelaskan:

فإن تعذر إيفاء دينه في الحال، لغيبة المال ونحوها استُحب لوارثه ، أو غيره : أن يتكفل به عنه

Artinya: "Jika utang mayit tidak bisa dilunasi ketika ia meninggal, karena tidak adanya harta padanya, atau karena sebab lain, maka dianjurkan bagi ahli waris untuk melunasinya. Juga dianjurkan bagi orang lain untuk melunasinya." (Kasyful Qana, 2/84)

Dengan dilunasinya utang tersebut maka si mayit akan terbebaskan dari keburukan yang disebabkan karena utang.

Dijelaskan lagi bahwa membayar utang bukan kewajiban anak-anak atau ahli waris, hukumnya mustahab (dianjurkan) saja. Oleh karena itu, pelunasan utang boleh juga dilakukan oleh orang lain yang di luar ahli waris.

Baca juga: Memberi Nafkah Keluarga Akan Mendapat Penghalang Siksa Neraka 

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini