Mau Menikah, Kenali Dulu 3 Bentuk Mahar dalam Islam

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Sabtu 11 Juli 2020 16:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 11 330 2244866 mau-menikah-kenali-dulu-3-bentuk-mahar-dalam-islam-e9JG8YbqCK.jpg ilustrasi (stutterstock)

MAHAR atau maskawin merupakan kewajiban dalam pernikahan. Mahar disebut juga sebagai shadaq yang artinya benar, jujur dan tulus karena menunjukkan kejujuran niat untuk menikah.

Mahar dimaknai sebagai sejumlah harta yang diberikan oleh mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan, sebagai bukti dari ketulusan dan keseriusan laki-laki kepada wanita untuk terikat pada hubungan pernikahan. Hukum mahar ialah wajib untuk sempurnanya nikah.

Lalu, ada berapa jenis mahar?

Pendakwah Ustadz Aris Munandar dalam sebuah kajiannya yang disiarkan di kanal Youtube Yufid TV menuturkan, secara umum mahar dibagi menjadi tiga.

Pertama

Bentuk mahar pertama ialah yang paling utama untuk mencakupi ketentuan dasar dan pokok terhadap apa yang diperbolehkan untuk dijadikan mahar.

Baca juga: Kisah Nabi Ismail Ditinggal Ayahnya di Lembah Tandus hingga Bangun Kakbah

“Ketentuan dasar dari mahar ialah sebagaimana dikatakan para ulama kita, semua hal yang sah seandainya jadi alat tukar pembayaran, maka sah menjadi mahar dalam perkawinan meskipun nilainya murah,” kata Ustadz Aris Munandar seperti dikutip dari videonya, Sabtu (11/7/2020).

Mahar hendaknya ialah suatu barang yang seandainya menjadi alat tukar pembayaran nilainya sah, seperti alat tukar jual beli dalam bentuk uang, atau berupa barang yang berlaku seperti dalam sistem pembayaran bersifat barter.

Menurut Aris, sesuatu yang tak bisa dijadikan sebagai alat tukar pembayaran maka nilainya tak sah untuk dijadikan mahar.

“Contohnya banyak di tempat kita, atau tak sedikit orang yang maharnya membacakan surat Ar Rahman, atau surat tertentu dari Alquran. Pembacaan suatu surat dalam Alquran pada saat akad ini tak bisa menjadi mahar, tidak sah hukumnya. Kenapa? Karena membaca Surat Ar Rahman atau surat yang lain itu tidak sah sebagai alat tukar pembayaran,” jelasnya.

Karenanya, jika saat akad hanya membacakan surat sebagai mahar, maharnya bernilai tidak sah dan harus digantikan dengan hal lainnya hingga terbayarkan.

Bentuk mahar kedua dan ketiga ialah termasuk kepada ketentuan khusus sebagai pengganti mahar. Dalam artian, apabila seseorang yang hendak menikah tak memiliki kondisi khusus berikut ini, maka diwajibkan baginya untuk membayar mahar seperti bentuk mahar yang utama di poin pertama tadi.

Kedua

Kedua adalah mahar berbentuk jasa. Hal ini termasuk ketentuan untuk sebagian orang yang tak memiliki kekayaan atau kemampuan harta untuk memberikan mahar berupa barang.

Aris mengisahkan pada zaman Nabi, salah satu sahabatnya mengatakan bahwa ia ingin segera dan sangat berniat untuk menikah namun ia bukanlah seseorang yang berasal dari golongan yang kaya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk memberikan mahar sekecil apapun dari barang yang dimiliki, meskipun hanya sebuah cincin dari besi. Namun, karena ketidakpunyaannya, maka Nabi tetap memperbolehkannya untuk menikah dengan ketentuan mahar berupa jasa yakni mengajarkan Alquran.

Cerita lainnya ialah dari Nabi Musa, yang menikah dengan seorang putri dan maharnya berupa jasa yakni bekerja sebagai pengembala selama 8 tahun. Bekerja sebagai pengembala ini tak mendapatkan gaji, karena 8 tahun tersebut dianggap sebagai cara pembayaran mahar hingga dianggap lunas.

Ketiga

Bentuk mahar ketiga adalah pembayaran mahar yang diperbolehkan pada zaman Nabi yang masih marak dengan perbudakan. Jika perempuan yang hendak dinikahi ialah seorang budak, maka maharnya dapat berupa memerdekakannya dari belenggu perbudakan. Hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW saat menikah dengan Shafiyah binti Huyay.

“Hukum asal mahar adalah berupa barang, atau secara detail diartikan sebagai segala sesuatu yang bisa jadi pengganti dari alat tukar pembayaran, seperti transaksi jual beli, sewa menyewa atau hal serupa lainnya. Dan untuk yang miskin maka boleh berupa jasa. Artinya, orang yang kaya dan termasuk memiliki kemampuan akan makruh hukumnya untuk menjadikan jasa sebagai mahar,” jelas Aris.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya