Lika-Liku Perjalanan Mualaf Cantik Berdarah Tionghoa, Julia Prastini

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Rabu 29 Juli 2020 12:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 29 614 2253850 lika-liku-perjalanan-mualaf-cantik-berdarah-tionghoa-julia-prastini-W15qdIWubC.JPG Julia Prastini (Foto: Instagram/@juliaprt7)

KEDEKATAN Wafiq Malik dengan sang kakak, Taqy Malik membuat dirinya turut menjadi sorotan publik. Mengikuti jejak sang kakak, wanita bercadar ini ternyata juga gemar membagikan konten tentang Islam.

Hal ini dibuktikan melalui channel Youtube miliknya yang kerap membagikan konten-konten terkait.

Salah satu konten menarik adalah dirinya yang membagikan kisah perjalanan menuju hijrah seorang mualaf bernama Julia Prastini. Wanita yang akrab dipanggil Jule ini merupakan teman dari Wafiq yang dikenalnya dari seorang teman lainnya yakni Dayra.

Dalam perbincangan tersebut, turut dikisahkan proses perjalanan panjang Jule sebagai seorang mualaf. Ia menceritakan bahwa dulunya ia adalah seorang penganut agama lain yang taat, dengan rajin beribadah setiap hari Minggu, hingga aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan tempat ibadah tersebut.

Titik terang menuju hijrah pertama ia dapatkan dari ibunya yang memutuskan untuk masuk Islam.

Baca juga: Meninggalkan Sholat Ashar Sama dengan Kehilangan Keluarga dan Harta

Gue sekarang ada bokap sambung, nyokap nikah lagi dan akhirnya jadi masuk Islam. Tapi gue belum pengen, nyokap juga enggak maksa karena gimanapun agama bukan mainan kan. Tapi di situ nyokap kayak pelan-pelan ngajak gue, dan bilang, ayo dong masa kita mau satu keluarga ada yang beda agama,” kata Jule, dikutip dari channel YouTubenya, Wafiq Malik.

Julia Prastini

Sempat suatu waktu, ibunda Jule membujuknya agar memikirkan keputusannya memeluk Islam, dengan alasan agar kedua anaknya dapat mendoakannya ketika suatu saat ibunya telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Namun, bujukan tersebut tak diterima oleh Jule, ia justu mengatakan untuk tak mencampuri urusan agamanya dengan agama yang dipeluk ibunya itu.

Jule merasa semakin didekatkan dengan momen diberikannya hidayah oleh Allah akan agama Islam ketika mengunjungi rumah pamannya. Paman yang berasal dari agama yang berbeda menanyakan perihal agama kepada Jule, dan justru mengingatkannya untuk mengikuti keinginan ibunya untuk membahagiakan sang ibu.

“Om gue bilang pas gue lagi ke rumah dia, dia bilang “Kamu disuruh mami masuk Islam?” Gue bilang iya tapi gue gak mau. Terus dia bilang lagi, “Ya udahlah ikutin aja. Emang pernah bikin mami bahagia apa sih? Bikin seneng apa sih, berbakti apa? Untuk sekarang mah ikutin aja dulu, nanti kalau udah gede ya terserah," katanya mencontohkan omongan sang paman.

Dari situlah wanita berdarah Tionghoa ini mulai memikirkan pembicaraan sang paman. Hingga suatu waktu, saat bangun dari tidurnya, ia memanggil ibunya untuk membawakannya segelas air putih dan mengatakan bahwa dirinya yang saat itu masih berusia 9 tahun akhirnya ingin untuk masuk Islam sebagaimana permintaan ibundanya.

Ia menceritakan keputusannya tersebut tak mudah. Kondisi ibunya yang telah lama menjadi orangtua tunggal secara tak langsung membuat dirinya sebagai anak sulung harus memposisikan diri jauh lebih dewasa daripada umur yang sebenarnya. Maka tak heran, di usianya yang masih belia ia sudah terpikirkan untuk mengambil keputusan sebesar itu.

Belum genap tiga bulan dirinya resmi memeluk Islam, ia dianjurkan untuk masuk pesantren oleh orangtuanya. Awalnya ia menolak, dengan dalih bahwa seharusnya dengan masuk Islam saja sudah sangat bagus sehingga tak perlu dipaksa untuk mendalami agama tersebut. Di tengah penolakan tersebut, ia akhirnya berpikir bahwa mungkin inilah satu-satunya jalan untuk menunjukkan baktinya kepada orangtua, hingga pada akhirnya ia mengiyakan perintah tersebut.

Julia Prastini

“Baru setahun di pesantren gue udah enggak kuat banget, tapi nyokap gue tuh kayak semangatin lagi, pertahanin lagi, karena nyokap gue pengen anak-anaknya itu kenal sama Tuhannya dan paham agama.” kata Jule.

“Akhirnya gue ngerasa mau sendiri di pesantren, karena merasa cozy aja di sana,” tambahnya.

Berada di lingkungan baru dengan segala runtutan kebiasaan yang tak diketahuinya, terlebih dengan segala adaptasi yang perlahan harus ia maklumi tentu tak mudah untuk dijalankan.

Gue masuk pesantren belum 3 bulan setelah masuk Islam. Baca alif, ba, ta, tsa, aja enggak tahu, bacaan sholat aja gue enggak tahu apa-apa,” ujar wanita berdarah Tionghoa ini menceritakan perjuangannya.

Tak hanya itu, diceritakan pula proses dirinya yang begitu sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan pesantren, hingga sulitnya saat menghafal Alquran, salah satunya surat Ar Rahman di mana ia begitu tertinggal dengan teman-temannya hingga tak jarang mendapati dirinya menangis karena kesulitan. Namun, segala tantangan mampu ia lalui hingga kini dirinya telah berhasil menghafal beberapa juz Alquran.

“Terimakasih kepada ustadz dan ustadzah yang telah mengajarkan dan membimbing saya, terima kasih banyak,” ujarnya.

Dari situ, Jule menemukan nilai plus masuk pesantren yang kini sangat ia syukuri. Ia mengaku bahwa belajar dalam pesantren tersebut telah mengajarkannya tentang manajemen waktu, kemampuan mengatur prioritas serta terbiasa dalam bersosialisasi, terlebih di pesantren terdapat berbagai orang dari kota hingga negara yang berbeda. Ia mengaku bahwa inilah yang menjadi pelajaran yang begitu berharga bagi hidupnya.

Ia menceritakan prosesnya hingga bisa sampai pada titik itu. Ia menceritakan di jenjang SD hingga SMP, ia hanya berupaya menghafal Alquran karena sebuah kewajiban dari pesantren. Saat itu bahkan ia mengaku tak mengetahui kemuliaan menghafal Alquran.

“Semakin ilmu nambah, dan gue berada di tempat semestinya gue hafal Alquran, dan akhirnya jadi paham sendiri. Hal Alquran itu bukan banyak-banyakan hafalan, lancar-lancaran setoran, atau sekadar dapat sanad. Hafal Alquran itu bakalan percuma kalau enggak diterapin di dalam kehidupan,” tuturnya.

Hingga memasuki jenjang SMA, Jule mulai memilih untuk fokus menjaga hafalan Alqurannya. Ia menjadi paham bahwa menghafal Alquran harus dilakukan sepenuh hati, sehingga ilmu yang didapatkan akan masuk dengan sempurna.

Menghafal Alquran kata Jule, harus dilandasi niat yang kuat. Kepada siapa niat tersebut ditujukan, diperbaikilah niat tersebut karena pada dasarnya yang terpenting adalah diperuntukkan kepada Allah Ta'ala bukan karena hal lain seperti halnya pujian manusia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini