Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pemilu 2024, MUI Ungkap Etika-Etika dalam Berdebat

Hantoro , Jurnalis-Minggu, 28 Januari 2024 |12:28 WIB
Pemilu 2024, MUI Ungkap Etika-Etika dalam Berdebat
Ilustrasi MUI ungkap etika dalam berdebat di Pemilu 2024. (Foto: Istimewa/mui.or.id)
A
A
A

Pentingnya argumen yang benar dalam berdebat berdesarkan berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِا لْحِكْمَةِ وَا لْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَا دِلْهُمْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Beliaulah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Beliaulah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (Quran Surat An-Nahl Ayat 125)

"Jika ditelusuri lebih jauh para ulama sudah menaruh perhatian tentang pentingnya debat," ungkap Buya Amirsyah.

Pertama, As-Sa'di berkata ketika menjelaskan tentang maksud dari melakukan debat atau bantahan yang terbaik dari ayat di atas:

"Jika orang yang didakwahi menyangka bahwa dia berada di atas kebenaran atau dia menyeru kepada kebatilan, maka bantahlah dia dengan cara yang terbaik. Maksudnya adalah metode dakwah yang lebih mendukung untuk diterimanya argumen, secara akal dan dalil syari."

Kedua, di antara metode tersebut adalah berargumen dengan dalil-dalil yang diyakini kebenarannya. Karena yang demikian ini lebih mendukung untuk dapat mewujudkan tujuan dakwah tersebut.

Ketiga, bantahan tersebut hendaknya tidak menyebabkan munculnya permusuhan, atau saling mencela, sehingga sirnalah tujuan yang hendak dicapai.

Keempat, tujuan dari debat (jidal) tersebut adalah untuk memberikan petunjuk kepada manusia menuju jalan kebenaran, bukan untuk mengalahkan lawan bicara atau tujuan yang semisalnya.

Begitulah pentingnya debat dengan fokus pada tema permasalahan untuk menunjukkan banyak hal:

Pertama, mencari kebenaran sejalan hadits riwayat At-Tirmidzi dari Abu Umamah, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ: مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً

"Tidaklah suatu kaum menjadi sesat setelah sebelumnya berada di atas hidayah kecuali mereka suka berdebat (jidal, berdebat kusir)."

Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan ayat: "Mereka tidak memberi perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan tujuan untuk membantah saja." (QS Az-Zukhruf: 58)

وَقَالُوْٓا ءَاٰلِهَتُنَا خَيْرٌ اَمْ هُوَۗ مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ اِلَّا جَدَلًاۗ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُوْنَ

"Mereka berkata, 'Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?' Mereka tidak memberikan (perumpamaan itu) kepadamu, kecuali dengan maksud membantah saja. Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar." 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement