Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
Dalam kitab At-Tahrir wa at-Tanwir (juz 3, hlm. 135), Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa ayat ini mengandung prinsip penting: Allah tidak membebani manusia dengan kewajiban ibadah yang melebihi kemampuannya.
Hal ini dapat dipahami dari kata “nafsan” yang digunakan dalam bentuk umum, sehingga mencakup semua manusia tanpa terkecuali. Artinya, tidak ada satu pun manusia yang diberi beban yang benar-benar tidak mampu ia jalankan. Dari sini bisa dipahami bahwa ajaran Islam pada dasarnya mudah dan sesuai dengan kemampuan manusia.
Ibnu ‘Asyur juga menjelaskan bahwa setiap aturan dalam syariat selalu mempertimbangkan kondisi dan kemampuan manusia, termasuk usaha dan kesungguhan mereka dalam beribadah. Dengan kata lain, Allah tidak menetapkan sesuatu yang memang mustahil untuk dilakukan.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah Saw juga bersabda:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ
Artinya: “Sesungguhnya agama itu mudah. Dan selamanya agama tidak akan memberatkan seseorang melainkan memudahkannya. Karena itu, luruskanlah, dekatilah, dan berilah kabar gembira! Minta tolonglah kalian di waktu pagi-pagi sekali, siang hari di kala waktu istirahat dan di awal malam”. (HR. Bukhari)
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
Syekh Nawawi Banten dalam Marah Labid jilid 1 hal 107 menjelaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang dalam ketaatan kecuali sesuai dengan kemampuannya. Setiap kebaikan akan dibalas dengan pahala, dan setiap keburukan akan mendapatkan balasannya.
لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا مِنَ الطَّاعَةِ إِلَّا وُسْعَهَا أَيْ طَاقَتَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ أَيْ ثَوَابُهُ مِنَ الْخَيْرِ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ أَيْ وِزْرُهُ مِنَ الشَّرِّ
Artinya: “Allah tidak akan membebani seseorang dalam ketaatan kecuali sesuai kesanggupanya dalam melaksanakannya. Baginya balasan pahala atas kebaikan yang ia perbuat dan baginya pula balasan dosa atas keburukan yang juga ia perbuat”.
Melalui mimbar mulia ini, khatib mengajak kepada jamaah sekalian untuk selalu bersyukur kepada Allah Swt dengan selalu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebab Allah Swt telah membuat agama ini mudah, maka selayaknya kita melaksanakannya dengan baik.