JAKARTA - Niat dan tata cara Puasa Ayyamul Bidh November 2026 perlu dipahami oleh umat Muslim yang ingin mengamalkan puasa sunah ini secara optimal. Puasa ini dikerjakan pada setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah, yang mana pada bulan November 2026 ini bertepatan dengan tanggal 23–25 November.
Lantas, bagaimana bacaan niat dan tata cara menjalankannya? Berikut merupakan niat dan tata cara Puasa Ayyamul Bidh, dilansir dari laman resmi milik Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Niat menjadi hal pertama yang harus dihadirkan dalam puasa Ayyamul Bidh. Sebagaimana puasa sunah lainnya, niat pada dasarnya cukup dengan keinginan di dalam hati untuk berpuasa. Meski begitu, para ulama memandang lebih utama jika niat tersebut dikhususkan untuk puasa Ayyamul Bidh. Niat juga dianjurkan untuk dilafalkan dengan lisan agar membantu menghadirkan niat di dalam hati. Namun, syarat utamanya tetap niat yang ada di dalam hati.
Lafaz niat yang dibaca pada malam hari adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati ayyamil-bidhi lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat berpuasa sunah Ayyamul Bidh esok hari karena Allah Ta’ala.”
Berbeda dengan puasa wajib, niat puasa sunah memiliki kelonggaran waktu. Seseorang yang belum sempat berniat pada malam hari tetap boleh berniat pada pagi atau siang hari sebelum waktu Zuhur, yakni sebelum matahari tergelincir ke arah barat. Syaratnya, sejak terbit fajar ia belum makan, minum, atau melakukan hal lain yang membatalkan puasa. Ketentuan ini merujuk pada hadis ketika Rasulullah SAW bertanya kepada Aisyah RA apakah ada makanan untuk sarapan. Setelah Aisyah menjawab tidak ada, beliau bersabda bahwa beliau akan berpuasa. Penjelasan ini disampaikan Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu.
Lafaz niat yang dibaca pada siang hari adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hadzal-yaumi ‘an ada’i sunnati ayyamil-bidhi lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat berpuasa pada hari ini untuk menunaikan sunah Ayyamul Bidh karena Allah Ta’ala.”
Secara prinsip, tata cara puasa Ayyamul Bidh sama dengan puasa sunah lainnya. Kekhususannya hanya terletak pada waktu pelaksanaan, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah. Rangkaiannya dimulai dengan niat sesuai bacaan di atas, lalu dilanjutkan dengan sahur.
Sahur hukumnya sunah, tetapi sangat dianjurkan karena memberi kekuatan fisik selama berpuasa dan mengandung keberkahan. Waktu sahur yang paling utama adalah pada akhir malam, yaitu mendekati waktu Subuh. Sahur juga lebih baik dilakukan sebelum waktu imsak.
Sejak terbit fajar hingga matahari terbenam, orang yang berpuasa wajib menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa. Selain itu, perlu juga untuk menjaga diri dari perbuatan yang mengurangi nilai pahala puasa, misalnya berkata kotor dan menggunjing orang lain. Dengan begitu, puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran, pengendalian diri, dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Ibadah ini diakhiri dengan berbuka. Ketika matahari terbenam dan waktu Magrib tiba, orang yang berpuasa disunahkan untuk segera berbuka sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Dengan memahami niat dan tata caranya, puasa Ayyamul Bidh dapat dijalankan dengan lebih optimal. Semoga ibadah ini diterima oleh Allah SWT. Amin, amin ya Rabbal ‘alamin.
(Rahman Asmardika)