nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fenomena Disunat Jin, Inilah Penjelasan Medisnya

Ayu Dita Rahmadhani, Jurnalis · Selasa 25 Juni 2019 16:35 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 25 614 2070723 fenomena-disunat-jin-inilah-penjelasan-medisnya-evatSnWCVR.jpg Sunat diwajibkan bagi umat Muslim (Foto: Kinbox)

Kita mungkin pernah mendengar fenomena seorang anak yang ketika bangun tidur mendapati kelaminnya telah tersunat dengan sendirinya. Kemudian muncullah anggapan bahwa anak tersebut telah disunat atau dikhitan oleh jin.

Dilansir dari berbagai sumber, Selasa(25/6/2019), tidak ditemukan hadits tentang kejadian manusia dkhitan oleh jin. Mamun konsidi seperti ini dapat dijelaskan secara medis.

Sunat

(Foto: The Independent)

Dokter Adika Mianoki dalam bukunya Ensiklopedi Khitan menerangkan, “Anak yang mengalami kejadian seperti dikhitan jin dalam istilah medis disebut parafimosis."

Parafimosis adalah Kelainan bentuk penis yang terjadi karena preputium yang tertarik ke belakang dan melipat serta menjerat batang penis sehingga tidak bisa lagi ditarik ke depan yang menyebabkan kepala penis terlihat seolah-olah seperti telah dikhitan.

Kondisi yang menyebabkan terjadinya parafimosis antara lain faktor setelah ereksi, menarik penis terlalu kuat pada saat mau kencing, atau karena penis sering dibuat main-main pada anak sehingga menyebabkan kulup yang tertarik tidak bisa kembali lagi.

Anak yang mengalami kondisi ini harus segera dikhitan untuk mencegah agar kulup tidak menjerat penis. Jika tidak dikhitan, dikhawatirkan akan menjerat penis dan mencegah aliran darah sehingga menyebabkan edema (bengkak) dan kematian jaringan penis. Sebaiknya segera hubungi dokter apabila ada anak yang menagalami kejadian seperti ini. (Ensiklopedi Khitan, hlm. 51).

Khitan merupakan hal yang hukumnya wajib bagi lelaki. Ketika ada orang yan hendak masuk Islam, Rasulullah SAW memerintahkan orang itu untuk berkhitan. Beliau bersabda,

أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ

Artinya : Hilangkan darimu rambut kekafiran ( yang menjadi ciri orang kafir ) dan berkhitanlah . ( HR. Ahmad 15830, Abu Dawud 356, dan dihasankan al-Albani)

Terlepas dari kajian masalah kesehatan, apakah seseorang yang mengalami parafimosis masih wajib dikhitan?

Pertama, tidak ada kewajiban khitan dan tidak ada kewajiban harus mengusapkan pisau di alat kelamin, sebagai bentuk khitan secara simbolik karena dia sudah tidak butuh dikhitan.

Ini merupakan pendapat Malikiyah, Syafiiyah dan Hambali.

Dalam Hasyiyah al-Jamal – kitab fiqh Madzhab Syafii – dinyatakan,

لو ولد مختونا فلا ختان أي لا إيجابا ولا استحبابا

Artinya : Jika dia dilahirkan dalam kondisi telah dikhitan, maka tidak ada lagi khitan. Tidak diwajibkan maupun dianjurkan. (Hasyiyah al-Jamal, 21/292)

Kemudian dalam Hasyiyah al-Adawi – buku Fiqh Maliki – dinyatakan,

قال بعض الشراح والذي يظهر ترجيح القول بأنه لا يمر عليه الموسى

Artinya : Kata sebagian ulama pensyarah, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa tidak perlu mengusapkan pisau di ujung penis. (Hasyiyah al-Adawi, 1/749)

Demikian pula keterangan Imam Ahmad, sebagaimana disebutkan dalam riwayat al-Maimuni.

Beliau mengatakan, bahwa Imam Ahmad bercerita kepadaku,

إن هاهنا رجلا ولد له ابن مختون ، فاغتم لذلك غما شديدا ، فقلت له : إذا كان الله قد كفاك المؤنة فما غمك بهذا ؟

Artinya : Di sana ada orang yang ketika anaknya lahir, sudah dikhitan. Lalu orang itu sedih dan bingung. Aku sampaikan kepadanya, “Jika Allah sudah menghilangkan beban khitan anak ini darimu, mengapa kamu malah bingung?” (Zadul Ma’ad, 1/80).

Kedua, dianjurkan untuk menempelkan pisau di ujung kelamin, sebagai bentuk khitan simbolik. Sebagaimana orang botak ketika tahallul, dianjurkan untuk menempelkan pisau di kepalanya sebagai tahallul simbolik.

Ini pendapat sebagian Syafiiyah.

Dalam Hasyiyah al-Jamal dinyatakan,

قال بعضهم لكن يستحب إمرار الموسى عليه

Artinya : Sebagian ulama Syafiiyah mengatakan, dianjurkan menempelkan pisau di ujung kelamin. (Hasyiyah al-Jamal, 10/159)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini