nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Juwairiyah, Tawanan Cantik dan Manis yang Dinikahi Rasulullah

Viola Triamanda, Jurnalis · Selasa 26 November 2019 11:24 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 11 26 614 2134510 kisah-juwairiyah-tawanan-cantik-dan-manis-yang-dinikahi-rasulullah-if4pXzzpCW.jpg Ilustrasi. Foto: Shutterstock

NABI Muhammad SAW memiliki 13 istri, mereka dinikahi dalam waktu dan tempat terpisah. Bahkan kisah pernikahan mereka juga berbeda-beda. Salah satu istri Rasulullah adalah Juwairiyah, wanita cantik yang menjadi tawanan perang.

Dalam buku 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam dikisahkan bahwa Juwairiyah Binti Harist r.a. mengatakan, “Tiga hari sebelum kedatangan Nabi SAW, aku bermimpi melihat bulan seakan berjalan dari Yatsrib dan jatuh ke pangkuanku. Namun, aku tidak mau memberitahukan mimpi itu kepada seorang pun sebelum Rasulullah datang. Ketika kami tertawan, aku mengharapkan mimpi itu. Selanjutnya, Rasulullah membebaskanku dan menikahiku. Jadi, mimpi itu pun telah menjadi kenyataan".

Juwairiyah binti Härits Ummul Mukminin adalah junjungan Bani Mushtaliq. Wanita yang bertakwa, suci, khusyuk, dan ahli ibadah ini merupakan wanita yang cantik dan rupawan, keturunan orang-orang baik dan keturunan bangsawan. la adalah Barrah binti Hârits ibn Abi Dharar ibn Hubaib ibn Khuzaimah, yaitu al-Mushtaliq ibn Amr ibn Rabi'ah ibn Hâritsah ibn Amr al-Khuza'iyah al-Mushtaliqiyyah.

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Sebelum menikah dengan Rasulullah SAW, namanya adalah Barrah. Namun, setelah menikahi, Nabi Muhammad memberinya nama Juwairiyah. Pasalnya, ia tidak senang jika dikatakan: "Rasulullah keluar dari rumah Barrah”.

Suatu ketika, Rasulullah mendengar berita bahwa al-Hârits ibn Dharar pimpinan Bani Mushtaliq, menghimpun siapa saja yang kuat di antara kaumnya maupun seluruh bangsa Arab untuk menyerang Rasulullah SAW. Karena itu, Nabi Muhammad mengirim Buraidah ibn Khashib untuk mencari tahu hal itu dan mengintai sejauh mana persiapan mereka untuk berperang.

Buraidah segera meninggalkan Madinah menuju Bani Mushtaliq. Mereka adalah bagian dari Bani Khuza'ah yang memiliki suatu mata air dikenal dengan nama al-muraisi. Mata air itu terletak di sudut Qadid, tempat berdirinya berhala Manat, Tuhan suku Aus dan Khazraj, sebelum Allah melimpahkan cahaya iman ke dalam hati mereka dan Tuhan suku Khuzaah yang bertahan dengan agama mereka.

Buraidah bisa melihat situasi Bani Mushtaliq dan seberapa besar pasukan vang telah berkumpul untuk menyerang Rasulullah SAW. Mereka dipimpin oleh Panglima al-Hârits ibn Abi Dharar.

Buraidah segera menghadap Rasulullah SAW untuk memberitahukan tentang persiapan Bani Mushtaliq yang hendak menyerang. Karena itu, Rasulullah memerintahkan agar menyiapkan pasukan dan persenjataan. Setelah itu, Rasulullah SAW keluar untuk menyambut Bani Mushtaliq dengan didampingi oleh salah satu istrinya: Aisyah binti Abu Bakar.

Rasulullah bertemu dengan Bani Mushtaliq di al-Muraisi' lalu terjadilah peperangan yang berakhir dengan kekalahan Bani Mushtaliq.

Unta dan domba-domba mereka digiring. Para wanita mereka tertawan, dan salah satu wanita yang menjadi tawanan adalah Barrah binti Harits ibn Abi Dharar, pimpinan dan junjungan kaum Bani Mushtaliq.

Rasulullah SAW memerintahkan agar para tawanan itu dibelenggu dan dikenakan burdah. Selanjutnya, para tawanan dibagi-bagikan di antara kaum Muslimin. Kabar gembira dari al-Muraisi' ini kemudian disampaikan kepada penduduk Madinah oleh Rasulullah dengan mengutus Tsa'labah ath-Tha'i untuk menyampaikannya.

Barrah binti Hârits atau Juwairiyah sebagaimana panggilan yang diberikan oleh Rasulullah, menjadi bagian untuk Tsabit ibn Qais dan saudara sepupunya. Tsabit memberikan beberapa pohon kurma miliknya kepada sepupunya yang ada di Madinah untuk menebus bagiannya kepada Barrah. Namun, Barrah menghendaki untuk merdeka dan melakukan akad mukatabah (perjanjian untuk memerdekakan budak dengan syarat yang disepakati-penerj) dengan Tsabit, yakni dengan membayar sebanyak sembilan keping emas.

Namun, Barrah sadar bahwa dirinya tidak mampu membayar tuntutan tersebut. Karena itu, ia menghadap Rasulullah untuk melaporkan persoalan yang ia alami tersebut.

Saat itu Nabi SAW sedang berada di kamar Aisyah. Juwairiyah datang dan meminta izin untuk bertemu dengan Rasulullah. Begitu melihat Juwairiva di depan pintu kamar, Aisyah merasa tidak senang jika wanita ini menemui Rasulullah. la sadar bahwa Rasulullah akan melihat seperti apa yang ia lihat pada Juwairiyah. Seorang gadis berusia dua puluh tahun, cantik, memiliki kepribadian yang memesona, dan menarik hati. Siapa pun yang melihatnva pastilah jatuh hati kepadanya.

Barrah menemui Rasulullah SAW kemudian berkata, "Wahai Rasulullah sesungguhnya aku adalah wanita muslimah karena telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah. Aku adalah Barrah ibn Härits, pemimpin kaumku. Kini kami mengalami sebagaimana yang telah engkau tahu. Aku jatuh menjadi bagian Tsabit ibn Qais dan saudara sepupunya. Selanjutnya, Tsabit menebusku dari saudaranya itu dengan beberapa pohon kurma di Madinah. la menjanjikan untuk memerdekakanku dengan syarat yang tidak bisa kupenuhi. Karena itu, aku mohon pertolongan kepadamu untuk membayar akad mukatabah ini".

Hati Rasulullah SAW tersentuh mendengar apa yang dikatakan oleh Barrah. Karena itu, beliau bertanya, "Apakah engkau mau yang lebih baik dari pada itu?

Barrah bertanya dengan penasaran, "Apakah itu wahai Rasulullah?"

Rasulullah menjawab, "Aku akan membayar mukatabah-mu dan menikahimu."

Wajah Barrah yang jelita itu berbinar bahagia, tetapi ia masih belum percaya bahwa dirinya akan lepas dari penghinaan. Ia pun segera menjawab "Mau wahai Rasulullah."

Rasulullah bersabda, "Aku akan melakukannya."

Rasulullah melunasi perjanjian mukatabah yang disyaratkan oleh Tsabit. Beliau merdekakan Barrah lalu menikahinya dan memberinya nama Juwairiyah. Dengan menikahi Barrah, Rasulullah menghendaki agar Bani Khuza'ah menjadi besan beliau dengan harapan bahwa hal itu akan membuat mereka bisa menerima Islam.

Ketika kaum Muslimin mengetahui bahwa Nabi Muhmmad telah menikahi Juwairiyah, mereka berkata tentang Bani Mushtaliq, "Mereka adalah besan Rasulullah SAW."

Selanjutnya, Kaum Muslimin melepaskan para tawanan yang mereka kuasai. Atas pernikahan Rasulullah dengan Barrah tersebut, ada seratus tawanan Bani Mushtaliq yang dibebaskan. Karena itu, tidak ada wanita yang mampu turut memberi berkah besar untuk kaumnya melebihi Barrah.

Ketika menggambarkan kecantikan Juwairiyah, Sayyidah Aisyah mengatakan, "Juwairiyah adalah wanita yang cantik dan manis. Setiap orang yang melihatnya pasti jatuh hati kepadanya. Suatu kali ia mendatangi Rasulullah untuk meminta bantuan dalam urusan mukatabah bagi dirinya. Demi Allah, begitu melihatnya di depan pintu kamar, aku merasa tidak senang melihatnya. Aku pun tahu bahwa Rasulullah SAW akan melihat seperti yang aku lihat.”

Demikianlah, tawanan yang cantik dan seorang putri dari junjungan Bani Mushtaliq, Juwairiyah binti Harits, akhirnya menjadi madu bagi Aisyah r.a. juga para Ummahatul Mukminin lainnya yang menjadi istri Rasulullah.

Dalam Al-Ishábah, Ibnu Hajar menggambarkan bagaimana kekuatan iman Juwairiyah dan sejauh mana cintanya kepada Rasulullah. Ia mengisahkan, "Ayah Juwairiyah, al-Harits, mendatangi Rasulullah SAW kemudian berkata “Sesungguhnya putriku adalah tawanan yang tiada duanya. Namun, aku terlalu terhormat untuk itu.”

Rasulullah SAW pun bersabda: “Bagaimana menurutku jika kami memberinya pilihan? Tidakkah engkau menerima?" Al-Härits menyahut: "Baiklah." la pun menghampiri Juwairiyah dan memberikan pilihan kepadanya. Juwairiyah menjawab: 'Aku memilih Allah dan Rasul-Nya.

Dalam kitab Sirah, Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa al-Härits kemudian masuk Islam diikuti oleh dua putranya serta sejumlah orang dari kaumnya. Disebutkan pula bahwa Sayyidah Juwairiyah r.a., sebelum menjadi tawanan, adalah istri dari Musafi' ibn Shafwan al-Mushtaliqi.

Demikianlah, Sayyidah Juwairiyah Ummul Mukminin hidup dalam rumah tangga Nabi SAW.bersama para istri Nabi Muhammad lainnya. Ia mendapat limpahan cahaya kenabian, ilmu, iman, dan hadis-hadis Rasulullah SAW hingga menjadi salah satu periwayat hadis.

Dari Juwairiyah, diriwayatkan tiga hadis dalam Shaih Bukhari dan dua hadis dalam Shahih Muslim. Beberapa perawi yang meriwayatkan darinya adalah Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa i, Ibnu Majah, dan masih banyak lagi.

Juwairiyah hidup hingga masa kekhalifahan Mu'awiyah dan wafat pada tahun 56 H. Jenazahnya disalatkan oleh Marwân ibn Hakam, Wali (setingkat gubernur) Madinah al-Munawwarah saat itu. Juwairiyah wafat pada usia 70 tahun. Sumber lain menyebutkan bahwa Juwairiyah wafat pada tahun 50 H dalam usia 65 tahun.

Semoga Allah merahmati Ummul Mukminin Juwairiyah binti al-Hârits karena pernikahannya dengan Rasulullah SAW telah membawa berkah dan kebaikan yang langsung dirasakan oleh kaum, keluarga, dan handai taulannya. Karena Juwairiyah-lah dan atas kekuasaan Allah, mereka berpaling dari kehambaan dan kemusyrikan ke dalam wilayah kemerdekaan dan cahaya Islam serta kejayaan.

Demikian Dikutip dari buku, 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, Halaman 86-90. Penulis : Dr. Bassam Muhammad Hamami.

Redaksi Okezone menerima foto atau tulisan pembaca berupa artikel tausyiah, kajian Islam, kisah Islam, cerita hijrah, kisah mualaf, event Islam, pengalaman pribadi seputar Islam, dan lain-lain yang berkaitan dengan Muslim. Dengan catatan foto atau artikel tersebut tidak pernah dimuat media lain. Jika berminat, kirim ke redaksi.okezone@mncgroup.com, cc okezone.lifestyle2017@gmail.com.

1
6

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini