Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Juwairiyah, Tawanan Cantik dan Manis yang Dinikahi Rasulullah

Viola Triamanda , Jurnalis-Selasa, 26 November 2019 |11:24 WIB
Kisah Juwairiyah, Tawanan Cantik dan Manis yang Dinikahi Rasulullah
Ilustrasi. Foto: Shutterstock
A
A
A

Rasulullah SAW memerintahkan agar para tawanan itu dibelenggu dan dikenakan burdah. Selanjutnya, para tawanan dibagi-bagikan di antara kaum Muslimin. Kabar gembira dari al-Muraisi' ini kemudian disampaikan kepada penduduk Madinah oleh Rasulullah dengan mengutus Tsa'labah ath-Tha'i untuk menyampaikannya.

Barrah binti Hârits atau Juwairiyah sebagaimana panggilan yang diberikan oleh Rasulullah, menjadi bagian untuk Tsabit ibn Qais dan saudara sepupunya. Tsabit memberikan beberapa pohon kurma miliknya kepada sepupunya yang ada di Madinah untuk menebus bagiannya kepada Barrah. Namun, Barrah menghendaki untuk merdeka dan melakukan akad mukatabah (perjanjian untuk memerdekakan budak dengan syarat yang disepakati-penerj) dengan Tsabit, yakni dengan membayar sebanyak sembilan keping emas.

Namun, Barrah sadar bahwa dirinya tidak mampu membayar tuntutan tersebut. Karena itu, ia menghadap Rasulullah untuk melaporkan persoalan yang ia alami tersebut.

Saat itu Nabi SAW sedang berada di kamar Aisyah. Juwairiyah datang dan meminta izin untuk bertemu dengan Rasulullah. Begitu melihat Juwairiva di depan pintu kamar, Aisyah merasa tidak senang jika wanita ini menemui Rasulullah. la sadar bahwa Rasulullah akan melihat seperti apa yang ia lihat pada Juwairiyah. Seorang gadis berusia dua puluh tahun, cantik, memiliki kepribadian yang memesona, dan menarik hati. Siapa pun yang melihatnva pastilah jatuh hati kepadanya.

Barrah menemui Rasulullah SAW kemudian berkata, "Wahai Rasulullah sesungguhnya aku adalah wanita muslimah karena telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah. Aku adalah Barrah ibn Härits, pemimpin kaumku. Kini kami mengalami sebagaimana yang telah engkau tahu. Aku jatuh menjadi bagian Tsabit ibn Qais dan saudara sepupunya. Selanjutnya, Tsabit menebusku dari saudaranya itu dengan beberapa pohon kurma di Madinah. la menjanjikan untuk memerdekakanku dengan syarat yang tidak bisa kupenuhi. Karena itu, aku mohon pertolongan kepadamu untuk membayar akad mukatabah ini".

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement