Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bahaya Menafsirkan Alquran Tanpa Ilmu

Rizka Diputra , Jurnalis-Selasa, 16 Juni 2020 |09:40 WIB
Bahaya Menafsirkan Alquran Tanpa Ilmu
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
A
A
A

ALQURAN merupakan kalam Allah Subhanahu wata'ala yang diturunkan kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam secara mutawatir untuk menyempurnakan petunjuk-Nya kepada manusia demi mencapai kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat.

Karena derajatnya yang tinggi sebagai pedoman hidup yang wajib diamalkan, maka Alquran tidak bisa ditafsirkan sembarangan, hanya bermodal akal tanpa berpijak pada ilmu. Sebab, bilamana seseorang berkata tentang Alquran dengan akal tanpa tanpa memiliki ilmu maka akan sangat berbahaya dan tercela.

Melansir dari laman muslim.or.id, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu mengatakan:

أي أرض تُقلُّني، وأي سماء تُظلُّني، إذا قلت في كتاب الله ما لم أعلم؟

Artinya: "Bumi mana yang akan membawaku dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku berkata tentang kitabullah sesuatu yang aku tidak tahu?"

Baca juga: Kisah Kades Teladan, Dipanggil Jokowi ke Istana hingga Kembali Jadi Guru Madrasah

Senada dengan Sayyidina Abu Bakar, Ibnu 'Abbas radhiyallahu anhuma, seorang mufassir yang mendapat keberkahan dengan doa baginda Rasulullah saja masih tetap menahan diri untuk berkata sesuatu tentang Alquran jika hal itu tidak dilandasi oleh ilmu. Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berujar:

سأل رجل ابن عباس عن {يوم كان مقداره ألف سنة}، فقال له ابن عباس: فما {يوم كان مقداره ألف سنة}؟ فقال الرجل: إنما سألتك لتحدِّثني، فقال ابن عباس: هما يومان ذكرهما الله في كتابه، الله أعلم بهما، وأكره أن أقول في كتاب الله بما لا أعلم.

Artinya: “Seseorang bertanya kepada Ibnu 'Abbas tentang ayat, 'Satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun'. Maka Ibnu 'Abbas berkata kepadanya: Ada apa dengan ayat tersebut, 'Satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun'? Orang tersebut berkata: Aku bertanya kepadamu agar kamu menjelaskan ayat tersebut kepadaku. Maka Ibnu 'Abbas berkata: Ini adalah dua hari yang Allah sebutkan di Kitab-Nya, dan Allah lebih mengetahui tentang kedua hari tersebut. Dan aku benci untuk berkata tentang kitabullah dengan sesuatu yang aku tidak tahu,”

Ibnu Syaudzab rahimahullah berkata:

حدَّثني يزيد بن أبي يزيد قال: كنا نسأل سعيد بن المسيب عن الحلال والحرام، وكان أعلم الناس، فإذا سألناه عن تفسير آية من القرآن سكت كأن لم يسمع.

Artinya: "Yazid ibn Abi Yazid berkata kepadaku: Kami bertanya kepada Sa’id ibn al-Musayyib tentang halal dan haram, di mana beliau adalah orang yang paling berilmu. Akan tetapi ketika kami bertanya kepadanya tentang tafsir ayat al-Qur’an, maka beliau diam seolah tidak mendengar sama sekali.”


Sikap Sa’id ibn al-Musayyib rahimahullah ini adalah seolah-olah beliau tidak mau berbicara tentang Alquran sama sekali secara mutlak. Akan tetapi, sebuah riwayat dari al-Laits rahimahullah menjelaskan sikap beliau dengan lebih utuh:

Baca juga: 2 Ayat dalam Alquran Paling Dicintai Nabi Muhammad dari Seisi Bumi

عن يحيى بن سعيد، عن سعيد بن المسيب، أنه كان لا يتكلم إلا في المعلوم من القرآن.

“Dari Yahya ibn Sa’id, dari Sa’id ibn al-Musayyib, bahwa beliau tidak berbicara apapun sama sekali kecuali tentang sesuatu yang telah diilmui dari Alquran,”

Apa yang dilakukan Sa'id ibn al-Musayyib telah sejalan dengan perintah syariat bagi kita untuk tidak menyembunyikan ilmu, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذ أَخَذَ اللَّـهُ ميثـٰقَ الَّذينَ أوتُوا الكِتـٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنّاسِ وَلا تَكتُمونَهُ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” (QS. Surat Ali 'Imran: 187).

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement