nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kirab Malam Selikuran Digelar Dua Kali di Kraton Solo, Kenapa?

Bramantyo, Jurnalis · Minggu 26 Mei 2019 02:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 26 614 2060425 kirab-malam-selikuran-digelar-dua-kali-di-kraton-solo-kenapa-6q8vm6IvcX.jpg Malam Selikuran di Kraton Solo untuk Menyambut Lailtul Qadar (Foto: Bramantyo/Okezone)

SOLO - Kraton Kasunanan Surakarta menggelar tradisi malam selikuran atau malam ke-21 di bulan Ramadan. Hanya saja, berbeda dari tahun sebelumnya, tradisi turun temurun Mataram Islam kali ini digelar dua kali dalam semalam.

Digelarnya malam selikuran dua kali dalam satu malam ini terpaksa dilakukan, menyusul masih terjadi konflik internal di dinasti Mataram.

Uniknya, selain digelar dua kali, lokasi tradisi peninggalan Paku Buwono X, ini pun menggunakan lokasi yang sama, yaitu masjid Agung Surakarta.

Kirab Lampion Malam Selikuran di Kraton Solo

Kirab lampu Ting digelar dua kubu, yaitu kubu Bebadan Keraton versi Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi dan Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo.

Pantauan Okezone, tradisi malam selikuran yang pertama digelar Bebadan Keraton versi Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi selepas Salat Isya dan Tawarih. Setelah kubu Paku Buwono XIII selesai menggelar kirab, sekira pukul 21.52 WIB, giliran Lembaga Dewan Adat menggelar acara serupa.

Peserta Malam Selikuran di Kraton Solo Membawa Obor

Hanya saja, urut-urutan kirab keduannya, tata caranya berbeda. Bila kubu Pakubuwono XIII menggelar Kirab mulai dari Kamandungan langsung menuju Masjid Agung.

Sedangkan kirab malam selikuran LDA, diawali dari Siti Hinggil. Kemudian, iring-iringan yang diawali dengan prajurit Keraton, diikuti iringan lampion serta ratusan obor berjalan mengitari tembok keraton searah jarum jam dan berakhir di Masjid Agung.

Ketua Eksekutif Lembaga Hukum LDA Keraton Solo, Kanjeng Pangeran Eddy Wirabhumi, mengatakan tidak mempermasalahkan ada pihak lain yang juga menggelar malam selikuran. Pasalnya, semakin banyak yang merayakan akan semakin baik.

“Bagi kami (LDA) tidak masalah ada yang juga menggelar malam selikuran. Siapa pun boleh melakukan upacara adat. Semakin banyak yang menggelar semakin bagus,"papar KP Wirabumi pada Okezone, Sabtu (25/5/2019).

Menurut KP Wirabumi, waktu penyelenggaraan kirab malam selikuran yang diyakini malam Lailatul Qadar ini memang waktu penyelenggaraannya dibuat berbeda agar tidak terjadi singgungan dilapangan.

Malam Selikuran disemarakkan dengan kirab di Kraton Solo

Sedangkan perlengkapan yang dibawa, antara lain 1.000 tumpeng yang diletakkan ancak cantaka diarak bersama ratusan lampu ting serta diiringi peserta kirab yang terdiri dari 9 satuan keprajuritan. Seribu tumpeng dan lampu ting dalam menyambut malam Lailatul Qodar, menjadi simbol berkah dan terang bagi semua orang.

Terpisah, Pangageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta KGPH Dipokusumo mengatakan dipilihnya masjid Agung ini dikarenakan Kebon Raja atau taman Sriwedari tengah sedang masa pembangunan masjid Agung.

Sehingga, alternatif lain pengganti lokasi biasa dipakai adalah masjid Agung yang masih didalam lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. "Sriwedari atau di Masjid Agung tidak masalah," kata Dipokusumo.

Agar tak terjadi gesekan di antara dua kubu, prosesi kirab malam selikuran mendapatkan penjagaan ketat dari aparat Kepolisian Polres Solo. Setibanya di masjid Agung, usai didoakan oleh pemuka agama, tumpeng Sewu itupun dibagikan pada masyarakat yang sudah menunggu.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini